Faktor Penghambat Pertumbuhan
16 Jan 2010
Ketersediaan hutan sebagai penghasil kayu semakin berkurang, sehingga ketersediaan kayu-kayuan di pasaran sangat rendah. Pada umumnya petani menanam pohon dalam kebun campuran, terdiri dari berbagai macam pohon antara lain pohon buah-buahan, pohon penghasil rempah, pohon obat-obatan dan pohon penghasil timber. Menurut Roshetko et al. (2001) sekitar 20 % dari total populasi pohon per satuan luas lahan ditanami dengan pohon penghasil timber dan sekitar 50 % nya adalah pohon sengon (Paraserianthes falcataria).
Sengon merupakan pohon yang petumbuhannya cepat, sehingga masa tunggu panen cukup singkat. Namun pertumbuhan sengon terutama yang tumbuh di puncak bukit seringkali terhambat, apalagi kalau mengalami musim kemarau panjang. Hal ini diduga karena dangkalnya sistem perakaran pohon sengon.
Pada tanah masam perkembangan sistem perakaran tanaman sering kali dihambat oleh tingginya konsentrasi aluminium (Al) (Hairiah, 1992) dan rendahnya konsentrasi P di lapisan tanah bawah, serta adanya hambatan fisika tanah seperti tingginya berat isi (BI) tanah karena masukan bahan organik yang rendah. Aluminium dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan sistem perakaran tanaman. Pengaruh langsung Al adalah melalu penghambatan pembelahan sel pada ujungujung akar (Foy, 1988), sehingga fungsi akar dalam menyerap air dan hara menjadi terganggu. Tingkat meracun Al dalam larutan tanah berhubungan erat dengan tingginya konsentrasi Al-inorganik monomerik yang terdiri dari Al3+, Al(OH)2+, Al(OH)2
+, Al(SO4) (Blamey et al., 1983).
Pengaruh tidak langsung Al terhadap perkembangan akar tanaman adalah melalui pengaruhnya terhadap pengikatan P . Ion Al pada tanah masam akan mengikat P menjadi bentuk Al(H2PO4)3 yang sukar larut sehingga menjadi kurang tersedia bagi tanaman. Dengan demikian penanganan masalah keracunan Al dalam tanah sulit untuk dipisahkan dari masalah kekahatan P (Hairiah, 1992). Faktor penghambat pertumbuhan akar tanaman yang lain adalah kepadatan tanah di lapisan bawah yang tinggi, biasanya diukur dari tingginya berat isi tanah (g cm-3). Pada umumnya berat isi tanah semakin meningkat dengan meningkatnya kedalaman tanah, seiring dengan semakin rendahnya kandungan bahan organik tanah, aktivitas perakaran, biota, dan kandungan liat tanah (Lal dan Greenland, 1979). Rusell (1977) melaporkan bahwa BI maksimum pada tanah liat sebesar 1.45 g cm-3 dan untuk tanah pasir sebesar 1,75 g cm-3 masih memungkinkan akar tanaman untuk tumbuh.
Diagnosa penghambat pertumbuhan akar tanaman di lapangan ternyata tidak mudah dilakukan, karena masing-masing faktor penghambat dapat saling berinteraksi atau berinteraksi dengan faktor luar lainnya. Untuk memperbaiki strategi pengelolaan lahan pertanian, ketrampilan kita dalam memahami dan mendiagnosa faktor penghambat pertumbuhan akar tanaman di lapangan masih perlu ditingkatkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor penghambat pertumbuhan akar sengon pada Ultisol, di Lampung Utara.
BAHAN DAN METODA
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga November, 2001, di lahan milik petani Desa Karang Sakti dan Desa Karang Rejo, Kecamatan Muara Sungkai, Kabupaten Lampung Utara.
Kondisi Umum
Desa Karang Sakti dan Desa Karang Rejo Kecamatan Muara Sungkai Kabupaten Lampung Utara, terletak pada posisi 4o32’ LS dan 104o56’ BT. Lahan berada pada landform yang datar sampai bergelombang dengan kemiringan antara 0-10%. Tanah dikategorikan ordo Ultisol (Prayogo, 2001). Temperatur maksimum 31.3oC di bulan Januari sampai 33.1oC di bulan Oktober, dan temperatur minimum berkisar antara 20.5oC di bulan Agustus dan 22.4oC di bulan Januari. Curah hujan rata-rata tahunan adalah 2529 mm. Dari data yang dikumpulkan 48 tahun terakhir, curah hujan tahunan terendah 1510 mm dan tertinggi 3385 mm (Hairiah et al., 2002).
Penelitian ini diawali dengan mewawancarai petani pemilik lahan sengon, untuk memperoleh beberapa informasi yang berkaitan dengan pengelolaan dan permasalahan sengon yang dihadapi.
Secara umum petani di daerah ini merupakan petani transmigran dari pulau Jawa. Kedua desa lokasi penelitian dibuka sebagai desa transmigrasi (Resettlement) pada tahun 1980-an. Lahan selanjutnya ditanami ketela pohon atau jagung, kemudian berubah menjadi lahan tebu karena masuknya program TR (Tebu Rakyat) di wilayah ini. Masalah utama yang dihadapi oleh petani di daerah ini adalah rendahnya kesuburan tanah dan adanya gulma alang-alang.
Pengolahan tanah hanya dilakukan pada awal tanam pohon sengon, sekitar 5 tahun yang lalu. Hasil wawancara singkat dengan petani antara lain adalah pada musim kering banyak pohon sengon yang mati dengan berbagai gejala yang mereka temukan, misalnya pohon sengon terlihat kering dengan ciri daun sengon habis dan pada kulit batang pohon tumbuh seperti jamur berwarna kecoklatan.

Leave a reply
You must be logged in to post a comment.