Ketersediaan hutan sebagai penghasil kayu semakin berkurang, sehingga ketersediaan kayu-kayuan di pasaran sangat rendah. Pada umumnya petani menanam pohon dalam kebun campuran, terdiri dari berbagai macam pohon antara lain pohon buah-buahan, pohon penghasil rempah, pohon obat-obatan dan pohon penghasil timber. Menurut Roshetko et al. (2001) sekitar 20 % dari total populasi pohon per satuan luas lahan ditanami dengan pohon penghasil timber dan sekitar 50 % nya adalah pohon sengon (Paraserianthes falcataria).
Sengon merupakan pohon yang petumbuhannya cepat, sehingga masa tunggu panen cukup singkat. Namun pertumbuhan sengon terutama yang tumbuh di puncak bukit seringkali terhambat, apalagi kalau mengalami musim kemarau panjang. Hal ini diduga karena dangkalnya sistem perakaran pohon sengon.

Pada tanah masam perkembangan sistem perakaran tanaman sering kali dihambat oleh tingginya konsentrasi aluminium (Al) (Hairiah, 1992) dan rendahnya konsentrasi P di lapisan tanah bawah, serta adanya hambatan fisika tanah seperti tingginya berat isi (BI) tanah karena masukan bahan organik yang rendah. Aluminium dapat berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan sistem perakaran tanaman. Pengaruh langsung Al adalah melalu penghambatan pembelahan sel pada ujungujung akar (Foy, 1988), sehingga fungsi akar dalam menyerap air dan hara menjadi terganggu. Tingkat meracun Al dalam larutan tanah berhubungan erat dengan tingginya konsentrasi Al-inorganik monomerik yang terdiri dari Al3+, Al(OH)2+, Al(OH)2
+
, Al(SO4) (Blamey et al., 1983).

Read the rest of this entry »